Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR

Sampai saat ini Indonesia belum berhasil membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), sehingga belum ada sebuahpun PLTN yang dapat dioperasikan untuk mengurangi beban kebutuhan energi listrik yang saat ini semakin meningkat di Indonesia. Padahal energi nuklir saat ini di dunia sudah cukup berkembang dengan menguasai pangsa sekitar 16% listrik dunia. Hal ini menunjukkan bahwa energi nuklir adalah sumber energi potensial, berteknologi tinggi, berkeselamatan handal, ekonomis, dan berwawasan lingkungan, serta merupakan sumber energi alternatif yang layak untuk dipertimbangkan dalam Perencanaan Energi Jangka Panjang bagi Indonesia guna mendukung pembangunan yang berkelanjutan.
Berdasarkan statistik PLTN dunia tahun 2002 terdapat 439 PLTN yang beroperasi di seluruh dunia dengan kapasitas total sekitar 360.064 GWe, 35 PLTN dengan kapasitas 28.087 MWe sedang dalam tahap pembangunan. PLTN yang direncanakan untuk dibangun ada 25 dengan kapasitas 29.385 MWe. Kebanyakan PLTN baru dan yang akan dibangun berada di beberapa negara Asia dan Eropa Timur. Memang di negara maju tidak ada PLTN yang baru, tetapi ini tidak berarti proporsi listrik dari PLTN akan berkurang. Di Amerika beberapa PLTN telah mendapatkan lisensi perpanjangan untuk dapat beroperasi hingga 60 tahun, atau 20 tahun lebih lama daripada lisensi awalnya.

Di Indonesia, ide pertama untuk pembangunan dan pengoperasian PLTN sudah dimulai pada tahun 1956 dalam bentuk pernyataan dalam seminar-seminar yang diselenggarakan di beberapa universitas di Bandung dan Yogyakarta. Meskipun demikian ide yang sudah mengkristal baru muncul pada tahun 1972 bersamaan dengan dibentuknya Komisi Persiapan Pembangunan PLTN (KP2PLTN) oleh Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) dan Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik (Departemen PUTL). Kemudian berlanjut dengan diselenggarakannya sebuah seminar di Karangkates, Jawa Timur pada tahun 1975 oleh BATAN dan Departemen PUTL, dimana salah satu hasilnya suatu keputusan bahwa PLTN akan dikembangkan di Indonesia. Pada saat itu juga sudah diusulkan 14 tempat yang memungkinkan di Pulau Jawa untuk digunakan sebagai lokasi PLTN, dan kemudian hanya 5 tempat yang dinyatakan sebagai lokasi yang potensial untuk
pembangunan PLTN.
Pada perkembangan selanjutnya setelah dilakukan beberapa studi tentang beberapa lokasi PLTN, maka diambil suatu keputusan bahwa Semenanjung Muria adalah lokasi yang paling ideal dan diusulkan agar digunakan sebagai lokasi pembangunan PLTN yang pertama di Indonesia. Disusul kemudian dengan pelaksanaan studi kelayakan tentang introduksi PLTN yang pertama pada tahun 1978 dengan bantuan Pemerinatah Itali, meskipun demikian, rencana pembangunan PLTN selanjutnya terpaksa ditunda, untuk menunggu penyelesaian pembangunan dan pengoperasian reaktor riset serbaguna yang saat ini bernana “GA Siwabesy” berdaya 30 MWth di Puspiptek Serpong.
Pada tahun 1985 pekerjaan dimulai dengan melakukan reevaluasi dan pembaharuan studi yang sudah dilakukan dengan bantuan International Atomic Energy Agency (IAEA), Pemerintah Amerika Serikat melalui perusahaan Bechtel International, Perusahaan Perancis melalui perusahaan SOFRATOME, dan Pemerintah Itali melalui perusahaan CESEN. Dokumen yang dihasilkan dan kemampuan analitis yang dikembangkan dengan program bantuan kerjasama tersebut sampai saat ini masih menjadi dasar pemikiran bagi perencanaan dan pengembangan energi nuklir di Indonesia khususnya di Semenanjung Muria.

Pada tahun 1989, Pemerintah Indonesia melalui Badan Koordinasi Energi Nasional (BAKOREN) memutuskan untuk melakukan studi kelayakan yang komprehensif termasuk investigasi secara mendalam tentang calon tapak PLTN di Semenanjung Muria Jawa-Tengah. Pelaksanaan studi itu sendiri dilaksanakan di bawah koordinasi BATAN, dengan arahan dari Panitia Teknis Energi (PTE), Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, dan dilakukan bersama-sama oleh beberapa instansi lain di Indonesia.



Pada bulan Agustus tahun 1991, sebuah perjanjian kerja tentang studi kelayakan telah ditandatangani oleh Menteri Keuangan Republik Indonesia dengan Perusahaan Konsultan NEWJEC Inc. Perjanjian kerja ini berjangka waktu 4,5 tahun dan meliputi pelaksanaan pekerjaan tentang pemilihan dan evaluasi tapak PLTN, serta suatu studi kelayakan yang komprehensif tentang kemungkinan pembangunan berbagai jenis PLTN dengan daya total yang dapat mencapai 7000 MWe. Sebagian besar kontrak kerja ini digunakan untuk melakukan pekerjaan teknis tentang penelitian pemilihan dan evaluasi tapak PLTN di lokasi tapak di Semenanjung Muria.
Pada 2 tahapan pekerjaan yang pertama (Step 1-2) sudah dilakukan dengan baik pada tahun 1992 dan 1993. Pada fase ini 3 buah calon tapak yang spesifik sudah berhasil dilakukan dengan studi perbandingan dan ditentukan rangkingnya. Sebagai kesimpulan didapatkan bahwa calon tapak terbaik adalah tapak PLTN Ujung Lemahabang. Kemudian tahapan kegiatan investigasi akhir (Step-3) dilakukan dengan mengevaluasi calon tapak terbaik tersebut untuk melakukan konfirmasi apakah calon tapak tersebut betul dapat diterima dan memenuhi standar internasional. Studi tapak PLTN ini akhirnya dapat diselesaikan pada tahun 1995. Secara keseluruhan, studi tapak PLTN di Semanjung Muria dapat diselesaikan pada bulai Mei tahun 1996. Selain konfirmasi kelayakan calon tapak di Semanjung Muria, hasil lain yang penting adalah bahwa PLTN jenis air ringan dengan kapasitas antara 600 s/d 900 MWe dapat dibangun di Semenanjung Muria dan kemudian dioperasikan sekitar tahun 2004 sebagai solusi optimal untuk mendukung sistem kelistrikan Jawa-Bali.
Pada tahun-tahun selanjutnya masih dilakukan lagi beberapa studi tambahan yang mendukung studi kelayakan yang sudah dlakukan, antara lain studi penyiapan “Bid Invitation Specification” (BIS), studi pengembangan dan evaluasi tapak PLTN, studi perencanaan energi dan kelistrikan nasional dan studi pendanaan pembangunan PLTN. Selain itu juga dilakukan beberapa kegiatan yang mendukung aktivitas desain dan pengoperasian PLTN dengan mengembangkan penelitian di beberapa fasilitas penelitian BATAN, antara lain penelitian teknologi dan keselamatan PLTN, proteksi radiasi, bahan bakar nuklir dan limbah radioaktif serta menyelenggarakan kerjasama internasional dalam bentuk partisipasi desain PLTN.
Akibat krisis multidimensi yang terjadi pada tahun 1998, maka dipandang layak dan perlu untuk melakukan evaluasi kembali tentang kebutuhan (demand) dan penyediaan (supply) energi khususnya kelistrikan di Indonesia. Untuk itu suatu studi perancanaan energi dan kelistrikan nasional jangka panjang “Comprehensive Assessment of Different Energy Resources for Electricity Generation in Indonesia” (CADES) yang dilakukan dan diselesaikan pada tahun 2002 oleh sebuah Tim Nasional di bawah koordinasi BATAN dan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) dengan dukungan IAEA.
Hasil studi ini menunjukkan bahwa kebutuhan energi di Indonesia diproyeksikan meningkat di masa yang akan datang. Kebutuhan energi final (akhir) akan meningkat dengan pertumbuhan 3,4% per tahun dan mencapai jumlah sekitar 8146 Peta Joules (PJ) pada tahun 2025. Jumlah ini adalah sekitar 2 kali lipat dibandingkan dengan kebutuhan energi final di awal studi tahun 2000. Pertumbuhan jenis energi yang paling besar adalah pertumbuhan kapasitas pembangkitan energi listrik yang mencapai lebih dari 3 kali lipat dari kondisi semula, yaitu dari 29 GWe di tahun 2000 menjadi sekitar 100 GWe di tahun 2025. Jumlah kapasitas pembangkitan ini, sekitar 75% akan dibutuhkan di jaringan listrik Jawa-Madura-Bali (Jamali). Dari berbagai jenis energi yang tersedia untuk pembangkitan listrik dan dilihat dari sisi ketersediaan dan keekonomiannya, maka energi gas akan mendominasi penyediaan energi guna pembangkitan energi listrik, sekitar 40% untuk wilayah Jamali. Energi batubara akan muncul sebagai pensuplai kedua setelah gas, yaitu sekitar 30% untuk wilayah Jamali. Sisanya sekitar 30% untuk akan disuplai oleh jenis energi yang lain, yaitu hidro, mikrohidro, geothermal dan energi baru dan terbarukan lainnya. Diharapkan energi nuklir dapat menyumbang sekitar 5-6% pada tahun 2025.
Mengingat situasi penyediaan energi konvensional termasuk listrik nasional di masa mendatang semakin tidak seimbang dengan kebutuhannya, maka opsi nuklir dalam perencanaan sistem energi nasional jangka panjang merupakan suatu solusi yang diharapkan dapat mengurangi tekanan dalam masalah penyediaan energi khususnya listrik di Indonesia. Berdasarkan kajian yang sudah dilakukan tersebut di atas maka diharapkan pernyataan dari semua pihak yang terkait dengan pembangunan energi nasional bahwa penggunaan energi nuklir di Indonesia sudah diperlukan, dan untuk itu perlu dimulai pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) sekitar tahun 2010, sehingga sudah dapat dioperasikan secara komersial pada sekitar tahun 2016.
BATAN sebagai Lembaga Pemerintah, berdasarkan Undang-undang No. 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran, telah dan akan terus bekerjasama dengan Lembaga Pemerintah terkait, Lembaga Swadaya Masyarakat, Lembaga dan Masyarakat Internasional, dalam mempersiapkan pengembangan energi nuklir di Indonesia, khususnya dalam rangka mempersiapkan pengembangan energi nuklir tersebut adalah studi dan kajian aspek energi, teknologi, keselamatan, ekonomi, lingkungan hidup, sosial-budaya, dan manajemen yang tertuang dalam bentuk rencana stratejik 2006-2010 tentang persiapan pengembangan energi nuklir di Indonesia

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

”PEMANFAATAN KULIT PISANG DAN JERUK SEBAGAI BAHAN UTAMA PEMBUATAN BATERAI RAMAH LINGKUNGAN”


ABSTRAK : Pemanfaatan kulit pisang dan kulit jeruk, sebagai bahan baku utama pembuatan baterai ramah lingkungan merupakan suatu penerapan konsep baterai dari bahan – bahan alami yang ramah lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental, Baterai ini menghasilkan tegangan 0,9 Volt, kemudian di seri dan paralel sehingga menghasilkan tegangan 5 Volt. Kemampuan baterai ramah lingkungan ini dapat menggerakkan 2 jam dinding sekaligus. Rumusan masalah dalam karya tulis ini antara lain (1) Apakah faktor yang memepengaruhi besarnya tegangan pada pembuatan baterai ramah lingkungan; (2) Bagaimanakah cara memperbesar tegangan yang keluar dari campuran kulit pisang dan jeruk; (3) Berapa lamakah penggunaan baterai ramah lingkungan dari jus kulit pisang dan jeruk (4) Apakah manfaat dari baterai ramah lingkungan. Adapun tujuan penulisan dari karya tulis ini yakni (1) Mengetahui faktor yang memepengaruhi besarnya tegangan pada pembuatan baterai ramah lingkungan; (2) Mengetahui cara memperbesar tegangan yang keluar dari campuran kulit pisang dan jeruk; (3) Mengetahui lamanya penggunaan baterai ramah lingkungan dari jus kulit pisang dan jeruk; (4) Mengetahui manfaat dari baterai ramah lingkungan. Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan: (1) faktor – faktor yang mempengaruhi besarnya tegangan yang keluar dari jus kulit pisang dan jeruk adalah perbandingan campuran kulit pisang dan jeruk paling baik adalah 4:1. Serta bahan tembaga dan seng (2) Cara untuk memperbesar tegangan yaitu dengan merangkainya secara seri. Tegangan yang awalnya 0,9 Volt apabila diseri dan diparalel akan menghasilkan tegangan 5 Volt.yang dapat digunakan untuk menggerakkan 2 jam dinding sekaligus; (3) Lamanya penggunaan kulit pisang dan jeruk ini tergantung dari banyaknya jus kulit pisang dan jeruk yang digunakan dan juga beban yang digunakan. (4) Manfaat dari penggunaan konsep baterai ramah lingkungan yaitu, Mengurangi penggunaan Baterai yang mengandung logam berat, Mencegah pencemaran air dan tanah, Dapat digunakan sebagai pembelajaran, Sebagai pupuk kompos, dan juga Menjaga bumi dari banyaknya limbah baterai
 Kata Kunci : Pemanfaatan; Baterai ramah lingkungan; Kulit pisang dan jeruk
 Pembahasan :
Faktor faktor yang mempengaruhi besarnya tegangan pada pembuatan baterai ramah lingkungan
Faktor – faktor yang akan diujikan untuk mengetahui pengaruh dari besarnya tegangan yang dihasilkan meliputi yaitu : banyaknya air yang digunakan dalam pembuatan jus kulit pisang dan jeruk, perbandingan banyaknya kulit pisang dan jeruk yang digunakan dalam pembuatan jus, panjang tembaga dan seng yang digunakan.
  • Air
Air (ml)
Kulit pisang (gram)
Kulit Jeruk (gram)
Panjang Tembaga
Panjang kawat (seng)
Tegangan (Volt)
200
100
25
50
50
0,6
300
100
25
50
50
0,75
400
100
25
50
50
0,9
500
100
25
50
50
0,9
600
100
25
50
50
0,75

Untuk mengetahui apakah banyaknya air yang digunakan dapat mempengaruhi besarnya tegangan yang dihasilkan, peneliti membuat suatu jus kulit pisang dan jeruk dengan komposisi banyaknya air yang digunakan mulai dari 200 mL sampai dengan 600 mL seperti tabel diatas, dengan kulit pisang dan jeruk serta panjang tembaga dan kawat (seng) yang digunakan sama. Hasilnya tegangan yang dihasilkan dari penggunaan komposisi air yang berbeda, ternyata tidak memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap banyaknya tegangan yang dihasilkan.
Dapat dilihat dari tabel diatas, tegangan yang dihasilkan berkisar antara 1 Volt. Untuk 100 gram kulit pisang dan 25 gram kulit jeruk sebaiknya menggunakan 400 mL air. Tetapi hal ini tidak harus menggunakan takaran sekian. Yang terpenting adalah, campuran air yang digunakan tidak terlalu padat maupun tidak terlalu cair. Karena jika air yang digunakan untuk membuat jus kulit pisang dan jeruk terlalu sedikit atau banyak, maka dalam proses penghalusan akan mengalami kesulitan. Jadi sebaiknya air yang digunakan dalam pembuatan jus kulit pisang dan jeruk, secukupnya.
  • Perbandingan kulit pisang dan jeruk yang digunakan
Air (ml)
Kulit pisang (gram)
Kulit Jeruk (gram)
Panjang Tembaga
Panjang kawat (seng)
Tegangan (Volt)
300
50
-
50
50
0,7
300
-
50
50
50
0,5
300
100
25
50
50
0,9
300
100
50
50
50
0,8
300
100
100
50
50
0,8
300
25
100
50
50
0,7
300
50
100
50
50
0,75
Untuk mengetahui banyaknya perbandingan antara kulit pisang dan jeruk yang sebaiknya digunakan dalam pembuatan jus kulit pisang dan jeruk, peneliti membuat 5 kali percobaan dengan perbandingan yang berbeda. Awalnya dengan hanya menggunakan kulit pisang saja kemudian menggunkan kulit pisang dan jeruk, kemudian menggunakan campuran keduanya dengan perbadingan kulit pisang : kulit jeruk yaitu 4:1, 2:1 dan 1:1 begitu pula sebaliknya.
Dari data diatas dapat disimpulkan jika perbandingan penggunaan kulit pisang dan jeruk paling baik yaitu 4:1 yaitu untuk 4 gram kulit pisang sebaiknya ditambahkan 1 gram kulit jeruk hal ini akan menghasilkan tegangan yang lebih besar jika dibandingkan dengan lainnya. Penggunaan kulit pisang saja tanpa kulit jeruk, akan menghasilkan tegangan yang tidak terlalu besar, begitu pula dengan penggunaan kulit jeruk saja.
  • Panjang Tembaga dan kawat (seng) yang digunakan
Air (ml)
Kulit pisang (gram)
Kulit Jeruk (gram)
Panjang Tembaga
Panjang kawat (seng)
Tegangan (Volt)
300
100
25
30
50
1,1
300
100
25
50
30
1,1
300
100
25
50
50
1,1
300
100
25
75
50
1,1
300
100
25
50
75
1,1
Untuk mengetahui apakah panjang tembaga dan juga kawat (seng) dapat mempengaruhi besarnya tegangan yang keluar dari jus kulit pisang dan jeruk, peneliti menggunakan komposisi air yang tetap dan juga kulit pisang dan jeruk perbandingan 4:1 yang sama untuk 5 kali percobaan dengan panjang tembaga dan kawat (seng) yang berbeda.
Dari tabel diatas dapat dilihat, jika panjang dari tembaga dan juga kawat (seng) tidak mempengaruhi dari besarnya tegangan yang keluar dari jus kulit pisang dan jeruk yaitu sebesar 0,9 Volt. Dapat disimpulkan meskipun panjangnya berbeda tetapi tegangan yang dihasilkan akan tetap sama. Tetapi semakin panjang atau semakin banyak tembaga dan seng yang digunakan maka waktu penggunaan dari baterai sendiri akan semakin lama. Karena tergantung dari banyaknya reaksi yang terjadi antara tembaga dengan jus kulit pisang dan jeruk serta kawat (seng).
Setelah dilakukan percobaan ternyata yang mempengaruhi besarnya tegangan yang dihasilkan oleh jus kulit pisang dan jeruk adalah perbandingan banyaknya kulit pisang dan jeruk yang digunakan dan juga kandungan tembaga dan seng pada bahan yang digunakan. Dari percobaan yang dilakukan oleh peneliti, setelah 24 jam maka tegangan akan menurun hal ini disebabkan pada seng terjadi korosif / karat disebabkan seng tersebut mengalami oksidasi oleh gas oksigen di udara.
Arus listrik ini terjadi karena adanya perpindahan elektron dari tempat yang kelebihan elektron ke tempat yang kekurangan elektron. Secara kimia reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
Katode :                      2H+ + 2ḗ        H2
+
 
Anode :                                   Zn          Zn2+ + 2ḗ
                                    2H+ + Zn           H2 + Zn2+
Menggunakan reaksi ini dikarenakan pada saat percobaan timbul gelembung – gelembung udara sehingga menggunakan reaksi kimia seperti diatas. Reaksi ini sesuai dengan aturan – aturan pada sel volta
Cara memperbesar tegangan yang keluar dari campuran kulit pisang dan jeruk
Besarnya tegangan yang dihasilkan oleh campuran jus kulit pisang dan jeruk yaitu sebesar 0,9 Volt DC. Muatan listrik ini terjadi karena perpindahan elektron dari negagif ke positif atau dari suatu tempat yang kelebihan elektron ke tempat yang kekurangan elektron sehingga arus listrik mengalir dari titik positif ke titik negatif.
Untuk memperbesar tegangan yang dihasilkan yaitu dengan menyusun secara seri. Yaitu tembaga sebagai (+) dihubungkan dengan kawat (seng) sebagai (–) pada rangkaian satunya. Semaikn banyak rangkaian maka tegangan yang dihasilkan akan semakin banyak. Setelah dirangkai seperti diatas maka akan keluar tegangan sebesar 2 Volt DC. Yang dapat menggantikan baterai pada jam dinding. Setelah dirangkai secara seri campuran jus kulit pisang dan jeruk ini dapat digunakan untuk menggantikan baterai pada jam, sehingga penggunaan baterai dapat terkurangi dengan adanya jus kulit pisang dan jeruk yang lebih ramah lingkungan.


dalam satu blok terdapat 4 sel, langkah pertama yaitu memaralel antara seng 1 dengan seng 2 dalam satu blok, begitu pula dengan seng 3 dan seng 4, sedangkan untuk tembaga 1 dan tembaga 2 disambung serta tembaga 3 dan tembaga 4. Dari sambungan tersebut diparalel lagi seng dengan seng serta tembaga dengan tembaga tujuan merangkai ini untuk menambah arus yang nantinya akan digunakan, setelah itu dari satu blok tersebut akan diperoleh seng sebagai kutub negatif dan tembaga sebagai kutub positif. Tembaga sebagai kutub positif di seri dengan blok disebelahnya dengan cara menyambungnya denngan seng sebagai kutub negatif blok selanjutnya. Begitu pula seterusnya hingga terbentuk 6 blok terisi dari tempat aki yang telah diisi jus campuran kulit pisang dan kulit jeruk. Dari hasil penyusunan tersebut diperoleh tegangan 5 Volt yang dapat menghidupkan 2 jam dinding sekaligus.
Lamanya penggunaan baterai ramah lingkungan dari jus kulit pisang dan jeruk
Lamanya penggunaan kulit pisang dan jeruk ini tergantung dari banyaknya jus kulit pisang dan jeruk yang digunakan dan juga beban yang digunakan untuk mengetahui ketahanan berapa lama jus kulit pisang dan jeruk tersebut dapat bereaksi. Percobaan dilakukan tanggal 4 September 2011 mulai jam 07.00 dengan tegangan 5 volt menggunakan 2 buah jam dinding. Diukur menggunakan Volt meter DC
No.
Jam
Tegangan (Volt)
Keterangan
1.
07.00
5

2.
08.00
5

3.
09.00
4,5

4.
10.00
4,0

5.
11.00
3,8

6.
12.00
5
Setelah dikocok
7.
13.00
4,9

8.
14.00
4,6

9.
17.00
4,2

10.
18.00
3,9

11.
19.00
3,7

12.
20.00
4,8
Setelah dikocok
13.
21.00
4,6

14.
22.00
4,4

15.
23.00
4

16.
00.00
3,9

17.
01.00
3,6

18.
02.00
4,3
Setelah dikocok
19.
03.00
4,3

20.
04.00
4

21.
05.00
3,9

22.
06.00
3,9

23.
07.00
3,7


Dari data diatas dapat dilihat jika setiap jamnya tegangan pada baterai yang diujikan dengan 2 jam dinding mengalami penurunan, hal ini dikarenakan reaksi yang terjadi anatara tembaga dan juga seng dengan jus kulit pisang dan kulit jeruk. Pada table diatas juga dijelaskan jika setelah masing – masing blok dikocok, maka akan mengalami kenaikan tegangan kembali hampir sama dengan tegangan pada awal pereaksian. Hal ini dikarenakan cairan yang telah bereaksi akan digantikan oleh cairan yang belum tereaksi oleh tembaga dan juga seng tersebut. Cairan yang telah bereaksi nantinya akan berwarna lebih gelap dibandingkan sebelum bereaksi dan apabila cairan tersebut sudah tidak bereaksi maka tidak menghasilkan tegangan.
Dicoba menggunakan lampu LED dengan tegangan yang sama 5 Volt
No.
Jam
Tegangan (Volt)
Keterangan
1.
09.00
3
Nyala lampu terang
2.
10.00
2,3
Nyala lampu tidak terlalu terang
3.
11.00
1,9
Nyala lampu agak redup
4.
12.00
1,5
Nyala lampu redup
5.
13.00
1,1
Nyala lampu semakin redup
Dari data diatas dapat ditarik suatu kesimpulan yaitu jika menggunakan Lampu LED tegangan yang seharusnya 5 Volt tapi menjadi 3 Volt hal ini berbeda dengan percobaan yang menggunakan jam dinding sebagai bebannya, hal ini masih menjadi penelitian penulis mengapa terjadi perbedaan padahal seharusnya lampu LED ini bias bertahan hampir sama dengan jam dinding. Salah satu kemungkinannya yaitu arus yang terlalu kecil sehingga mempengaruhi nyala lampu dan mengambil tegangan yang besar, tetapi hal ini masih hipotesis sementara peneliti, karena keterbatasan waktu peneliti masih belum menemukan sebabnya dan masih dalam proses penelitian lebih lanjut.
Manfaat dari baterai ramah lingkungan
Mengurangi penggunaan Baterai
            Dengan adanya konsep baterai yang menggunakan campuran jus kulit pisang dan jeruk ini akan mengurangi penggunaan baterai saat ini yang berbahaya bagi lingkungan karena mengandung logam berat seperti merkuri, mangan, timbal, nikel, lithium dan kadmium. Apabila baterai ini dibuang sembarangan, akan meneyebabkan pencemaran tanah dan juga air bagi lingkungan. Dan apabila hal tersebut terjadi akan memberikan dampak negative pada manusia seperti gangguan kesehatan.
 Mencegah pencemaran air dan tanah
            Dengan adanya konsep baterai yang ramah lingkungan yaitu menggunakan jus kulit pisang dan jeruk sebagai elektrolit akan mengurangi penggunaan baterai yang mengandung logam berat dalam langkah ini kita telah melakukan 2 hal yaitu reuse penggunaan batu baterai dan juga me-recycle kulit pisang dan kulit jeruk yang tidak terpakai. Selain itu apabila jus kulit pisang dan jeruk tersebut sudah tidak dapat digunakan bisa langsung dibuang tanpa adanya dampak negative bagi lingkungan maupun manusia.
 Dapat digunakan sebagai pembelajaran
       Dengan adanya konsep baterai ramah lingkungan ini dapat dijadikan suatu pembelajaran tentang lingkungan hidup dan juga menumbuhkan sikap kreatif pada siswa untuk membuat suatu inovasi – inovasi baru yang ramah lingkungan. Selain itu pembuatan baterai dari kulit pisang dan kulit jeruk ini merupakan suatu energy terbarukan yang dapat menambah wawasan siswa baik pada materi kejuruan listrik maupun materi sel volta pada kimia.
 Sebagai pupuk kompos
       Jus kulit pisang dan jeruk yang telah digunakan dapat dijadikan sebagai campuran pembuatan kompos. Karena jus kulit pisang dan kulit jeruk ini dapat dijadikan starting atau campuran untuk awal pengomposan. Tentunya hal ini sangat berguna dan tidak berbahaya bagi lingkungan. Jadi pembuatan baterai dengan menggunakan jus kulit pisang dan jeruk ini tidak menghasilkan limbah apapun sehingga tidak menyebabkan permasalahan baru yang dapat merusak lingkungan
 Menjaga bumi
            Apabila diumpamakan Probolinggo terdiri dari 10.000 rumah yang rata – rata tiap rumah memiliki 1 baterai maka apabila masa berlakunya habis, akan menghasilkan 10.000 baterai belum lagi selama setahun, 2 tahun, 3 tahun k depan. Maka akan semakin banyak jumlah baterai yang mencemari lingkungan kita. Dengan adanya baterai ramah lingkungan ini diharapkan dapat mengurangi jumlah pemakaian baterai yang berbahaya bagi lingkungan. Sehingga dapat menyelamatkan bumi kita dari menumpuknya limbah baerai.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS